Taman Puring dengan luas 5400 m2 menampung para pedagang barang bekas sejak 1983 berdasarkan kebijakan Gubernur DKI Jakarta pada saat itu. Di taman yang berada di antara Jl. Gandaria I dan Jl. Kyai Tapa ini, terdapat pasar loak yang awalnya merupakan tempat sementara untuk warga yang terkena pemutusan kerja saat krisis moneter terjadi pada tahun 1997. Izin berdagang saat itu hanya bersifat sementara dan dibatasi pada hari Sabtu dan Minggu, yang kemudian disebut Pasar Tunggu  (Sabtu-Minggu). Saat itu sekitar 400 kios telah menutupi areal taman.

Sebagai lokasi publik yang digunakan oleh orang banyak, tentunya disediakan fasilitas umum seperti musholla untuk memudahkan para pedagang dan pengunjung pasar yang beragama Islam untuk beribadah. Jika umat Islam menjadikan hadist kebersihan sebagian dari iman, maka musholla yang terletak di pasar loak Taman Puring menjadi tidak layak untuk digunakan untuk menghadap-Nya. Tembok musholla dengan warna kusam, cat yang terkelupas, atap musholla yang sebagian bocor membuat langit-langit mushola memiliki bekas air bekas hujan atau lainnya. Hal ini dapat dikatakan sangat mengganggu kenyamanan pengunjung untuk beribadah.

Menyaksikan situasi di atas membuktikan bahwa kurangnya kesadaran warga DKI Jakarta akan kebersihan lingkungan sekitar. Sebab menjadikan DKI Jakarta yang asri bukan hanya tugas pemerintah, tetapi juga semua warga yang tinggal di dalamnya. Berangkat dari fakta yang terjadi di lapangan, Kawan Baik mengajak muslimin dan muslimat sekalian mengambil peran menjadi pasukan kebersihan dari program Bersih-Bersih Musholla.

Gerakan Bersih-Bersih Musholla atau BBM adalah program membersihkan musholla di tempat-tempat umum di wilayah DKI Jakarta pada tiap hari Sabtu dan Ahad. Musholla yang telah terpilih akan dibersihkan oleh tim BBM. Melalui program ini, masyarakat DKI Jakarta bisa berpartisipasi memberikan informasi ini seluas-luasnya, menjadi relawan, dan juga berdonasi.

Share This